Terungkap, Ini Faktor Utama Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet

Menurut Widi, Kawasan Sub DAS Penakir di dominasi tanah latosol. Karakteristik tanah Kawasan Sub DAS Penakir rentan terhadap erosi dan longsor, hal ini akibat sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air.

“Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi,” kata dia.

Faktor Lain

Selain itu, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi banjir dan longsor adalah daya dukung dan daya tampung lingkungan. Yaitu kemampuan lahan untuk melindungi dari tekanan. Kalau curah hujan tinggi tetapi tutupan lahan sangat baik atau rapatannya tinggi, maka dampaknya tidak terlalu besar.

Terkait tutupan lahan di kawasan Gunung Slamet sendiri ada yang tutupannya rapat yang di tumbuhi kayu-kayuan atau tanaman keras, juga ada lahan masyarakat yang di tumbuhi tanaman atau tumbuhan semusim.

Menurut Widi, banjir yang terjadi di kawasan tersebut tidak berhubungan dengan aktifitas penambangan. Sebab, aktifitas penambangan berada di bawah di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran.

BACA JUGA :  Ahmad Luthfi: Kantor Satgas MBG Nasional Akan Ditempatkan di Jawa Tengah

Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan upaya penanganan jangka panjang untuk mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor yang lebih parah. Di antaranya dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan. Misalnya di hutan lindung dan hutan produksi yang tutupannya atau tegakannya sudah kurang harus di perbaiki dengan penanaman pohon baik dalam bentuk reboisasi maupun penghijauan.

“Kami ada program itu. Teman-teman seluruh stakeholder juga sudah banyak yang berkontribusi untuk penanaman di kawasan Gunung Slamet. Pemprov Jateng juga sudah mengajukan kepada Kementerian Kehutanan agar kawasan hutan Gunung Slamet menjadi Taman Nasional yang meliputi lima kabupaten,” kata Widi sebagaimana arahan Gubernur Ahmad Luthfi.

Aktivitas Lain

Terpisah, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto menegaskan, tidak ada aktivitas tambang yang berada di tubuh Gunung Slamet.