“Saya harap, lulusan IBN Tegal tidak saja cerdas secara intelektual ataupun matang secara emosional, tapi juga memiliki kedalaman spiritual yang baik, yang tidak dipunyai lulusan sarjana lain pada umumnya,” ujarnya Umi
Menurutnya, perguruan tinggi adalah pencipta masa depan.
Terlebih di era digital society 5.0 yang tak sekadar bertumpu pada kecerdasan otak, tapi juga bagaimana menyiapkan sumber daya lulusannya yang mampu bersaing dengan mesin yang semakin canggih.
Perlu ada peran riil perguruan tinggi, di mana harus ada relevansi yang kuat antara keluaran perguruan tinggi, dengan kebutuhan pasar dan riset yang disinergikan dengan tuntutan masyarakat, bukan riset yang hanya berhenti sebatas dokumen penelitian tanpa ada pihak yang mengembangkannya.
“Saya titip pesan, selain harus mampu membaca dan adaptif pada perubahan zaman, bangun tata kelola perguruan tinggi ini lebih unggul dan profesional untuk menghasilkan pelayanan prima 4.0, khususnya di lingkup civitas akademika IBN Tegal,” tandasnya.
Sementara itu, Saefudin mengungkapkan dirinya telah menyiapkan program jitu untuk memajukan iklim pendidikan di kampusnya.
Salah satunya, mengembangkan IBN Tegal agar memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.
“Basic keilmuan di IBN ini fleksibel. Kalau di dunia kerja, saat ini sudah banyak berdiri perbankkan syariah. Kami juga telah menjalin kerjasama dengan lembaga keuangan syariah dan konvensional. Bahkan, kami juga menjalin kerjasama dengan Pegadian Syariah dan lelang syariah,” ucapnya. (T04-Red)