Sistem Sepur
Pada momentum panen raya ini, Pemprov Jawa Tengah juga memperkenalkan sistem mekanisasi terintegrasi yang di sebut “sistem sepur”. Sistem ini menggabungkan proses panen dan tanam secara berurutan dalam satu rangkaian kerja.
Defransisco Dasilva menjelaskan, bagian depan menggunakan combine harvester untuk memanen padi. Berjarak sekitar dua hingga tiga meter di belakangnya, mesin pengolah tanah langsung bekerja, di sertai drone yang menyemprotkan cairan dekomposer jerami agar cepat terurai menjadi bahan organik. Setelah lahan siap, mesin rice transplanter langsung melakukan tanam ulang.
“Berurutan seperti sepur atau kereta. Jadi panen, olah tanah, dan tanam, berjalan hampir bersamaan. Ini untuk optimalisasi lahan dan mempersingkat waktu,” ujarnya.
Menurut Tavares, sistem sepur mampu menghemat waktu hingga sekitar 90 persen dibanding metode manual. Untuk lahan dua hektare, seluruh rangkaian pekerjaan dapat diselesaikan dalam satu hari. Dengan cara manual, proses serupa bisa memakan waktu hingga 10 hari.
Uji ubinan yang dilakukan di lokasi panen menunjukkan hasil rata-rata 6 ton per petak ubinan 25 meter persegi. Jika optimal, produktivitas dapat mencapai rata-rata 9,6 ton per hektare, tergantung kondisi irigasi, pemupukan, dan kualitas pembibitan.
Selain mekanisasi, Gubernur juga memastikan koordinasi penguatan irigasi telah dilakukan bersama Kodam IV/Diponegoro di seluruh kabupaten/kota guna menjaga keberlanjutan produksi.
Dengan kombinasi perluasan tanam, penguatan irigasi, serta mekanisasi melalui sistem sepur, Jawa Tengah menargetkan kontribusi yang lebih besar terhadap produksi beras nasional sekaligus memperkokoh fondasi swasembada pangan pada 2026. (**)


