”Mereka menjadi contoh bagi teman-temannya bagaimana berinteraksi dengan pasien dan keluarga pasien, mulai dari komunikasi, bahasa tubuh, hingga cara memberikan pelayanan sesuai aturan,” jelasnya.
Pelayanan Prima
Any menjelaskan, program agen perubahan ini juga didukung pelatihan service excellent terlebih dahulu. Dalam pelatihan tersebut, pegawai dibekali kemampuan pelayanan prima, mulai dari teknik komunikasi efektif, senyum, salam, sapa, hingga penggunaan bahasa tubuh yang tepat saat melayani pasien.
Pelayanan prima tidak hanya di tujukan kepada pasien dan keluarga pasien sebagai pelanggan eksternal, tetapi juga kepada pelanggan internal seperti sesama pegawai serta pihak ketiga yang bekerja sama dengan rumah sakit, termasuk penyedia obat dan mitra layanan lainnya. Any menambahkan, manajemen rumah sakit menilai pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada tindakan medis atau pelayanan fisik semata, tetapi juga aspek psikologis pasien. Karena itu, pendekatan humanis menjadi bagian penting dalam pelayanan sehari-hari.
”Pasien harus merasa nyaman dan di perhatikan. Menghadapi orang sakit itu tidak hanya servis fisik, tetapi juga pelayanan psikologi. RSUD Batang menjadikan aspek psikologis sebagai bagian dari bentuk pelayanan untuk mendukung kesembuhan pasien,” tegasnya.
Ke depan, lanjut Any, RSUD Batang akan melakukan evaluasi terhadap efektivitas keberadaan agen perubahan tersebut sebelum mempertimbangkan penambahan jumlah agen di unit pelayanan lainnya.
”Program ini di harapkan mampu menjadi fondasi dalam membangun budaya kerja yang lebih baik dan pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas,” ucap Any. (**)



