Kisah ini menjadi simbol betapa seorang guru dan orang tua memiliki pandangan batin (bashirah) yang jauh ke depan untuk masa depan muridnya.
“Mbah Moen itu tahu porsi masing-masing. Ada santri yang diijazahi wirid berat, ada yang biasa saja. Saya termasuk yang ‘gampang-gampang’ saja, karena beliau tahu kalau saya wirid terus, kapan saya sempat mengurusi masyarakat sebagai wakil gubernur?” selorohnya yang kembali memicu tawa hangat para hadirin.
Selain berkisah soal nama, Gus Yasin juga menekankan pentingnya menjaga hubungan spiritual (Robithoh) dengan guru.
Wagub yang mendampingi Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, ini, mengajak ribuan alumni yang hadir untuk terus memegang teguh apa yang telah diajarkan di pesantren, terlepas dari apa pun profesi yang mereka jalani saat ini.
Acara Halal Bihalal ini tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga momentum penguatan sanad keilmuan. Ribuan alumni yang hadir dari berbagai daerah tampak antusias menyimak setiap pesan. Seolah kembali merasakan suasana mengaji langsung di bawah asuhan Mbah Moen di Sarang.
“Harapan kita hanya satu, semoga kita semua tetap diakui sebagai murid, tetap ‘dicangking’ (digandeng) oleh Mbah Moen hingga hari kiamat kelak,” tutup Gus Yasin. (**)


