Gus Yasin juga mengingatkan bahwa menjadi pemimpin di masa sekarang tidaklah ringan. Jejak rekam pemimpin mudah dilacak dan kritik datang dari berbagai arah.
“Sekarang mencari celah kesalahan pemimpin sangat mudah karena semuanya terekam. Tapi kritik itu penting, selama disampaikan secara objektif,” katanya.
Ia mencontohkan bahkan Nabi Muhammad pun tidak luput dari kritik. Karena itu, masyarakat perlu menyampaikan kritik secara konstruktif, bukan sekadar karena perbedaan kepentingan politik.
Sementara itu, Nawal Arafah Yasin dalam paparannya membahas perspektif kepemimpinan perempuan dalam Islam. Ia menekankan bahwa perdebatan mengenai kepemimpinan perempuan sering kali berkaitan dengan konteks sejarah sebuah hadis.
Ia menjelaskan sebagian ulama menolak kepemimpinan perempuan dengan merujuk pada hadis “tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin perempuan.” Namun, menurut sejumlah ulama lain, hadis itu berkaitan dengan konteks politik tertentu pada masa Persia.
Nawal juga mengingatkan bahwa Al-Qur’an justru menceritakan figur pemimpin perempuan yang berhasil, yakni Ratu Balqis dalam Surah An-Naml.
“Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Nabi Sulaiman menemukan seorang perempuan yang memimpin kaumnya, yaitu Ratu Balqis. Ini menunjukkan bahwa perempuan juga bisa memiliki kapasitas kepemimpinan,” ujar Ning Nawal, sapaan akrabnya.
Ia menambahkan, dalam sejarah Islam pun perempuan berperan penting dalam pengambilan keputusan. Salah satu contohnya adalah Ummu Salamah yang memberikan nasihat kepada Rasulullah saat Perjanjian Hudaibiyah.
Dari kisah itu, kata Ning Nawal, terlihat bahwa perempuan dapat berperan dalam musyawarah atau majelis syura selama memiliki kemampuan dan tetap berpegang pada syariat.


