“Sejak Jumat sudah banyak yang mengumpulkan dan di jual ke tengkulak. Setiap satu pikup mobil, tengkulak membeli dengan harga Rp150-200 ribu,” terang Bambang Supeno.
Menurut dia, tengkulak menjual kayu-kayu itu ke perajin batu bata dengan harga Rp400 ribu/ pikup. Kayu-kayu kiriman tersebut di nilai menjadi berkah tersendiri bagi nelayan yang saat ini tidak melaut. Hal itu dikarenakan ombak tinggi di laut Jawa.
“Alhamdulillah, nelayan bisa mendapatkan rezeki disaat musim paceklik,” katanya.
Bambang Supeno juga menceritakan, berkah banjir bandang tak hanya sebatas kayu. Tapi, pada Jumat 23 Januari 2026, nelayan Pantai Larangan dan warga sekitar juga mendapatkan kiriman ikan air tawar. Ikan-ikan dengan ukuran besar tidak tahu asalnya. Kemungkinan juga terbawa banjir dari daerah selatan Kabupaten Tegal.
“Setiap warga bisa mendapatkan seember ikan air tawar,” pungkasnya. (**)


