Setahun Holopis Kuntul Baris

Oleh : Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah

smpantura – Jawa Tengah ora nduwe gubernur? Bisa jadi pertanyaan atau sindiran yang belakangan ramai di medsos itu betul. Kalau yang di maksud adalah gubernur sebagai pemimpin yang modelnya one man show. Hobi tampil, semua harus atas dawuh dan petunjuk bapak gubernur, sehingga para kepala dinas tidak berani berinisiatif. Sampai meninjau ke lokasi bencana saja harus atas instruksi bapak gubernur. Jadi memang Jawa Tengah tidak punya gubernur super man, yang di miliki adalah gubernur sebagai orkestrator super team.

Mengajak sebanyak mungkin elemen masyarkat untuk bekerja sama membangun dan menyelesaikan permasalahan Jawa Tengah. Melakukan konsolidasi seluruh sumber dayauntuk program-program yang telah ditetapkan. Sementara pada saat yang sama memberikan ruang luas bagi kepala dinas untuk berinovasi juga tampil di depan publik. Tidak lupa mengetuk pintu langit ketika sejumlah bencana melanda, sebab manusia berusaha Tuhan yang menentukan.

BACA JUGA :  Ahmad Muzani dan Pelajaran dari Bangku Madrasah Ibtidaiyah

Filosofinya cukup jelas sebagaimana yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara, Ing ngarso sung tulodo, ing madyomangun karso, tut wuri handayani. Gubernur akan memberikan contoh ketika di depan, memberi semangat disaat berada di tengah-tengah masyarakat seraya memberikan dorongan tatkala berada di barisan belakang. Teorinya membumi “collaborative governance”.

Sederhananya gotong royong, sebagaiamana yang pernah Bung Karno sampaikan “Gotong royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan keringat semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis kuntul baris buat kepentingan bersama. Dari semua untuk semua”.

Sekedar ilustrasi, 25 hari setelah dilantik, untuk pertama kalinya dalam sejarah Jawa Tengah gubernur melakukan MoU dengan 44 perguruan tinggi sekaligus dengan perjanjian kerja sama untuk program strategis Jawa Tengah. Cepat, masif, dan spesifik. Ibarat pohon memang belum sepenuhnya berbuah, namun bunga sudah mulai mekar.