Godaan Kuasa dan Legitimasi (Kekerasan) Simbolik

Oleh Gendra Wisnu Buana, Dosen Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial, Telkom University

smpantura – Setiap Minggu pagi, udara serasa lebih lapang karena beberapa ruang di perkotaan tidak lagi dikuasai oleh deru kendaraan. Pusat-pusat maupun jalanan di beberapa kota berubah wajah menjadi hari bebas kendaraan bermotor. Sebuah agenda rutin ritual kaum urban sebagai ruang pertemuan warga, area olahraga, santap pagi, hingga ekspresi komunitas.

Pagi itu, sepanjang Jalan Pancasila hingga alun-alun Kota Tegal, suasananya berbeda dari biasanya. Massa berjalan beriringan membawa atribut partai berlambang gajah disertai irama drum band yang memecah suasana pagi. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) tengah menggelar kirab budaya bertepatan dengan car free day, Minggu (14/2/26).

Di tengah jalanan yang biasanya lengang dari kendaraan, arak-arakan kirab justru menghadirkan kendaraan berupa mobil hias berbentuk kapal dengan ornamen replika seekor gajah. Dari atas singgasana itu, Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep beserta para pendamping berdiri sambil melambaikan tangan, menyapa warga yang berjejer di tepi jalan.

BACA JUGA :  Kesenjangan Pendidikan Di Desa Dengan Kota

Beberapa barisan di belakangnya, rombongan Presiden ke-7, Joko Widodo, turut melintas dengan kemeja dan topi putih dipadu celana hitam. Di bagian lain, Wali Kota Tegal Dedi Yon Supriyono tampil mengenakan pakaian adat turut memeriahkan acara kirab budaya tersebut.

Menggunakan kebudayaan sebagai medium politik bukanlah hal yang asing. Seperti apa yang telah disampaikan Kaesang, kegiatan kirab budaya merupakan bagian dari upaya sosialisasi partai kepada masyarakat yang dikemas membumi dan dekat dengan tradisi lokal (detikjateng, 15/2/26). Menurutnya, konsep kirab budaya dipilih agar proses perkenalan partai tetap menghormati, merawat, sekaligus merayakan nilai-nilai budaya yang hidup di tengah warga.