BATANG, smpantura – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Batang memasang target tinggi dalam peta jalan pelayanannya. Tidak sekadar menjadi penyedia stok darah, PMI Batang kini tengah berjuang keras untuk meraih sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan POM.
Ketua PMI Batang Achmad Taufiq mengungkapkan, ambisi ini merupakan langkah besar untuk mensejajarkan diri dengan daerah lain yang lebih dulu maju. Di Jawa Tengah, standar kualitas setinggi ini baru dimiliki oleh Surakarta dan Banyumas.
”Kami ingin Unit Donor Darah (UDD) kita mencapai derajat CPOB. Di Jawa Tengah, baru ada di Surakarta dan Banyumas. Kami sudah studi ke sana,” ujarnya saat Musyawarah Kerja PMI di Aula PMI Batang, Kamis (5/3).
Langkah menuju CPOB diakui Taufiq bukan hal yang mudah. Terutama terkait investasi sarana prasarana yang menelan biaya fantastis. Namun, hal ini menjadi kebutuhan mendesak karena di masa depan, rumah sakit akan memperlakukan darah layaknya obat yang wajib diproduksi dengan standar kesterilan tinggi.
”Kalau UDD kita ini sudah CPOB, nanti tidak hanya Batang, Pekalongan, Kendal, atau Pemalang saja yang menuju ke kita. Tapi mungkin sampai ke Tegal dan daerah lain akan ke sini juga,” ucapnya.
Kepala UDD PMI Batang Edi Samiaji menjelaskan, target yang dibebankan oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM jatuh pada tahun 2027. Saat ini, pihaknya mulai berbenah dari sisi alur ruangan hingga dokumen administrasi.
”Hambatan terbesar yang membayangi adalah pemenuhan alat medis khusus yang standarnya sangat ketat. Ada tiga sampai empat alat yang harus kita penuhi, itu nilainya hampir mencapai Rp 4 miliar. Kalau dari SDM maupun dokumen, mungkin kita bisa penuhi. Tapi yang dari alat ini menjadi kendala khusus,” tuturnya.


