Ahmad Luthfi Minta Percepatan Penanganan Bendungan Glapan dan Sungai Tuntang

DEMAK, smpantura – Banjir yang kembali merendam wilayah Kabupaten Demak mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah penanganan. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan, penanganan tak bisa lagi bersifat darurat, dengan Sungai Tuntang sebagai titik krusial yang harus dibenahi dari hulu hingga hilir.

Gubernur Ahmad Luthfi usai mengecek lokasi pengungsian warga terdampak, menggelar rapat koordinasi lintas daerah dan kementerian untuk membahas penanganan banjir Demak secara komprehensif. Langkah ini diambil menyusul jebolnya tanggul Sungai Tuntang di tiga titik akibat meningkatnya debit air dari wilayah hulu.

Tiga titik tanggul yang jebol berada di Desa Trimulyo, yakni di Dukuh Solondoko sepanjang sekitar 30 meter dan Dukuh Solowire sepanjang 10 meter, serta di Desa Sidoharjo sepanjang kurang lebih 15 meter.

Dampaknya, delapan desa di empat kecamatan terdampak, meliputi Kecamatan Guntur, Karangtengah, Wonosalam, dan Kebonagung. Ketinggian air dilaporkan mencapai 100 hingga 150 sentimeter, memaksa ribuan warga mengungsi.

BACA JUGA :  Kader Gerindra di Jateng Didorong Maju Pilkada

Berdasarkan data BPBD Demak per 4 April 2026 pukul 09.00 WIB, jumlah pengungsi tercatat sebanyak 2.839 jiwa yang tersebar di 12 hingga 13 titik, dengan Kecamatan Guntur menjadi wilayah terparah.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menyebut kondisi di lapangan mulai kondusif. Proses evakuasi telah dilakukan, meskipun sebagian warga masih bertahan di tanggul demi menjaga ternak mereka.

“Sekitar 400 sampai 500 jiwa masih bertahan di tanggul menggunakan tenda terpal, karena tidak meninggalkan ternaknya,” ujarnya.

Ia juga memastikan korban yang sebelumnya dilaporkan hilang telah ditemukan. Secara umum, kebutuhan pengungsi dinilai telah tertangani melalui kolaborasi lintas instansi.