Selain dari Dewan Kesenian, dua juri lainnya berasal dari unsur pendidik, yaitu guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Dukuhwaru dan guru Bahasa Indonesia SMK Negeri 1 Slawi.
Plt Kepala Disperpusip Kabupaten Tegal Hari Nugroho mengatakan, lomba bertutur ini bukan sekadar ajang unjuk bakat atau mencari juara, melainkan investasi karakter.
Menurutnya ada tiga manfaat utama dari lomba bertutur yang ingin ditanamkan pada anak-anak, yaitu penguasaan literasi mendalam, keberanian dan kepercayaan diri, dan pelestarian budaya lokal.
“Dengan membawakan cerita rakyat atau sejarah lokal, anak-anak kita sedang menyambung napas peradaban agar nilai-nilai budi pekerti luhur ini tidak hilang ditelan zaman,” katanya.
Lewat sambutannya, Hari menganalogikan seorang anak yang gemar membaca dan bertutur ini ibarat pohon. Membaca adalah akar yang menyerap air dan nutrisi pengetahuan dari dalam tanah, sedangkan bertutur adalah cara pohon menghasilkan buah yang bisa dinikmati orang lain.
Menurutnya, pohon dengan akarnya kuat atau rajin membaca tapi tidak berbuah atau tidak berani berbagi ilmu dengan bercerita hanya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri. Tapi, pohon yang berbuah lebat adalah pohon yang memberikan keteduhan dan kehidupan bagi sekitarnya.
“Inilah yang anak-anak kita lakukan hari ini. Mereka sedang belajar jadi pohon yang memberi manfaat bagi dunia lewat cerita mereka,” ungkapnya.
Secara terpisah, Kepala Bidang Perpustakaan Disperpusip Kabupaten Tegal Sri Handayani mengungkapkan pelaksanaan kegiatan ini sepenuhnya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik Tahun Anggaran 2026.
Ia berpesan kepada guru pendamping agar menyiapkan siswa pemenang yang akan maju ke tingkat provinsi lebih matang lagi sehingga bisa menembus seleksi tingkat nasional dan berhasil meraih juara. (**)


