Setelah kera meninggalkan gunung dan mengikuti Gareng, Petruk sudah siap dengan air panas. Dia berencana menuangkan air panas ke atas monyet. Dia menunggu dan menunggu tetapi monyet tidak pernah mendatanginya. Ia tidak tahu bahwa saat para monyet mengejar Gareng, mereka bertemu dengan seekor naga raksasa. Monyet-monyet itu bertengkar dengan naga itu. Sangat mengerikan sehingga monyet dan naga akhirnya mati. Karena lelah menunggu kera, Petruk kemudian meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak membawa air panasnya dan meninggalkannya di sana. Orang-orang kemudian menamai tempat Petruk meninggalkan air panasnya dengan nama Guci. Jaraknya sekitar 50 kilometer dari Tegal, Jawa Tengah.
Pertempuran Bima dengan Gajah Raksasa
Dahulu kala, ada pertempuran besar antara Bima atau Werkudara dengan gajah raksasa. Pertempuran yang menggegerkan dunia itu, menyisakan kisah dengan Gunung Slamet.
Dalam pertarungan, Bima dengan gajah raksasa berlangsung sangat sengit. Bahkan, Werkudara mengeluarkan senjata andalannya, yakni kuku Bima. Kuku Bima yang sangat kuat ternyata patah hingga memotong gunung tinggi di Jawa itu, menjadi dua bagian. Dua bagian itu, yakni menjadi Gunung Slamet dan Gunung Ciremai.
Syekh Maulana Maghribi
Versi lain sejarah Gunung Slamet adalah bahwa pada masa penyebaran Islam, gunung tersebut bernama Gunung Gora. Sampai pada suatu ketika, ulama bernama Syekh Maulana Maghribi yang berasal dari Turki sedang menyebarkan agama Islam di wilayah sekitar Gunung Gora.
Syekh Maulana kemudian melihat cahaya misterius di langit yang kemudian ia cari sumbernya. Sampailah ia Gunung Gora. Di saat yang bersamaan, Syekh Maulana menemukan sumber air panas yang berhasil membuat ia sembuh dari penyakit gatalnya.


