”Kalau negara diam, pembangunan tidak akan terjadi. Apalagi kalau dibiarkan, masyarakat yang lemah bisa semakin tertinggal,” ujarnya.
Fenomena Caci Maki
Sementara itu, Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Batang, Fauzi Falas, menyoroti fenomena maraknya caci maki terhadap pejabat publik di media sosial. Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi siapa pun yang berada di posisi kepemimpinan saat ini. Kondisi ini dinilai dapat berdampak pada kesehatan mental pemimpin.
”Di media sosial, orang dengan mudah mencaci presiden misalnya. Sekarang ini, di media sosial, orang begitu mudah mencaci. Kata-kata seperti ‘bego’ atau ‘goblok’ sudah biasa. Saya berharap pada teman-teman, baik yang di eksekutif dan legeslatif untuk selalu berhati-hati karena ini era keterbukaan. Setiap tindakan apapun itu bisa muncul di media sosial,” ujarnya.
Dengan nada bercanda, Fallas bahkan menyebut dirinya mungkin tidak akan kuat menghadapi tekanan tersebut jika terpilih sebagai bupati.
”Nek aku dadi cok mati ngadeg (Mungkin kalau saya jadi bupati, bisa ‘mati berdiri’-red). Jadi saya bersyukur, mungkin ini cara Tuhan menjaga saya,” ucapnya.
Selain tekanan dari publik, Fallas juga menyinggung tantangan lain yang dihadapi pejabat daerah, yakni pengawasan ketat dari aparat penegak hukum. Ia menggambarkan posisi kepala daerah seperti berjalan di tepi jurang yang membutuhkan kehati-hatian tinggi.
”Sekarang menjadi pejabat itu seperti berjalan di pinggir tebing. Sedikit saja lengah, bisa terjatuh,” ujarnya.
Fallas juga mengaku prihatin dengan maraknya kasus korupsi yang menjerat sejumlah kepala daerah dalam beberapa waktu terakhir, termasuk melalui operasi tangkap tangan (OTT). Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bagi para pejabat untuk selalu menjaga integritas dan berhati-hati dalam menjalankan tugas.
Perjalanan Politik
Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengenang perjalanan politik PKB di Kabupaten Batang yang mengalami pasang surut sejak era reformasi. Fallas mengungkapkan, PKB sempat mengalami masa kejayaan pada Pemilu 1999 dengan meraih delapan kursi DPRD.


