TEGAL, smpantura – Rencana ekspor 50 ribu potong sarung toldem produksi Asaputex Jaya, Kabupaten Tegal, batal berangkat ke Afrika akibat terganggunya pelayaran internasional yang dipicu eskalasi konflik di Iran.
Dua kontainer dengan nilai transaksi sekitar 300 ribu dolar AS atau setara Rp 5 miliar terpaksa tertahan tanpa kepastian.
Owner Asaputex Jaya, Jamaludin Alkatiri, mengatakan pembatalan pengiriman tersebut baru diterima dua hari lalu.
Padahal, dua kontainer sarung Alat Tenun Bukan Mesin atau ATBM itu dijadwalkan berangkat masing-masing pada Selasa 3 Maret 2026 dan Sabtu 7 Maret 2026.
“Satu kontainer tujuan Djibouti dan satu lagi ke Burundi. Masing-masing berisi 25 ribu potong sarung. Jadi total ada 50 ribu potong yang gagal berangkat,” ujar Jamal saat ditemui di Tegal, Senin 2 Maret 2026.
Menurut Jamal, pembatalan terjadi setelah perusahaan pelayaran Nexlite menghentikan sementara seluruh pengiriman ke sejumlah negara tujuan, termasuk kawasan Afrika dan Timur Tengah.
Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Iran, yang berdampak pada jalur distribusi dan ketersediaan kontainer.
Jamal menuturkan, sejak dua tahun terakhir ekspor sarung Tegal relatif lancar tanpa penundaan berarti.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, ongkos kirim melonjak tajam dari sekitar 4.000 dolar AS menjadi 11.000 dolar AS per kontainer.
Selain biaya yang meningkat hampir tiga kali lipat, ketersediaan kontainer juga semakin terbatas.
“Sudah harga naik, kontainer juga sulit. Sekarang malah tidak ada pelayaran sama sekali dari Indonesia ke Afrika. Ini tentu sangat merugikan, apalagi ekspor tersebut belum lunas dan tidak ada kompensasi,” kata Jamal.


