Tegal  

Ekspor Sarung Tegal Gagal Berangkat Imbas Eskalasi Iran

Jamal memperkirakan, pemberitahuan lanjutan dari pihak pelayaran baru akan diterima pada 16 Maret mendatang.

Ketidakpastian ini membuat arus kas perusahaan terganggu, mengingat produksi untuk pasar ekspor telah rampung dan siap kirim.

Di tengah seretnya ekspor, pasar domestik justru menunjukkan tren sebaliknya.

Permintaan sarung toldem di pasar lokal meningkat hampir 300 persen dalam sebulan terakhir sejak awal Februari, seiring mendekati Ramadan dan Lebaran 2026.

“Biasanya transaksi di marketplace 10 sampai 20 per hari, sekarang bisa lebih dari 500 transaksi pengiriman ke seluruh Indonesia,” ujar Jamal.

Meski demikian, lonjakan pasar domestik belum sepenuhnya mampu menutup potensi kerugian dari pembatalan ekspor.

Selama ini, pasar global terutama Afrika, menjadi salah satu penopang utama industri sarung ATBM Tegal.

Jamal menyebut, untuk pasar ekspor, pihaknya baru mampu memenuhi sekitar 30 persen dari total permintaan.

BACA JUGA :  Civitas Akademika UPS Tegal Berpakaian Adat Nusantara

Sarung toldem Tegal sendiri diproduksi menggunakan ATBM dan menjadi komoditas harian di sejumlah negara Afrika.

Berbeda dengan pasar lokal yang musiman menjelang hari besar keagamaan, permintaan dari Afrika relatif stabil sepanjang tahun.

Saat ini, terdapat sekitar 30 pabrikan sarung toldem di Tegal. Khusus Asaputex Jaya, perusahaan tersebut membina 16 unit pabrikan kecil yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten dan Kota Tegal, dengan sistem produksi berbasis rumah tangga.

Jamal berharap situasi geopolitik segera mereda agar jalur ekspor kembali normal.

“Pasar Timur Tengah dan Afrika sebenarnya sedang meningkat tajam. Tapi dengan kondisi seperti ini, semua tertahan,” kata Jamal. (**)