Ketiganya menggunakan jalur rel sebagai jalan pintas saat hendak pulang usai menjenguk kerabat. Selain itu, tiga pelajar perempuan asal Kelurahan Kasepuhan juga meninggal usai tertemper KA Argo Merbabu di KM 81, di dekat GOR Sarengat Batang pada 21 Februari 2026. Ketiga korban, Isnati Sawita, 15, Dila, 15, dan Gita, di duga sedang asyik berswafoto (selfie) dan nongkrong di pinggir rel usai subuh tanpa menyadari kedatangan kereta dari arah barat.
Kejadian lainnya, seorang petugas KAI Daop 4 Semarang di laporkan menjadi korban saat sedang menjalankan tugas pada Selasa 3 Maret 2026 pagi. KA 2521 Kalimas Cargo relasi Surabaya Kalimas – Tanjung Priok menyambar seorang petugas yang sedang berdinas di KM 73+3, jalur hilir antara Stasiun Ujung Negoro – Stasiun Batang.
Kejadian keempat, seorang pria di laporkan meninggal dunia setelah tertemper kereta api di jalur perlintasan KM 76+8, tepatnya di petak jalan Desa Tegalsari, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, (27/4). Korban di ketahui bernama Wasukir (59), warga Desa Dampyak, Kecamatan Kandeman. Ia di nyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian setelah mengalami luka berat akibat tertabrak rangkaian Kereta Api Blambangan Ekspres relasi Banyuwangi–Pasar Senen.
Peringatan
Junaenah mengatakan, beberapa peristiwa yang terjadi di jalur kereta api menjadi peringatan, baik bagi warga sipil maupun petugas lapangan. Masyarakat di minta untuk mematuhi aturan yang ada. Ini di sebabkan kereta api tidak dapat berhenti secara mendadak karena sudah memiliki jalur dan jadwal yang tetap. Oleh karena itu, masyarakat di imbau untuk selalu disiplin dan mematuhi aturan serta arahan petugas di sekitar palang pintu rel kereta api.


