Impor “Nenek Ayam” dan Ujian Kemandirian Pangan Nasional

(Oleh Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga)

Rudi Yahya, Pengamat Kebijakan Publik asal Purbalingga

Pemerintah berdalih, impor diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga. Argumentasi jangka pendek ini memang tidak sepenuhnya keliru. Namun kebijakan pangan tidak bisa terus berhenti pada manajemen krisis. Tanpa investasi serius pada riset genetika unggas, penguatan laboratorium peternakan, dan keterlibatan aktif kampus serta peneliti dalam negeri, maka kemandirian hanya akan menjadi slogan yang berulang setiap tahun.

Situasi ini juga menyisakan ironi. Indonesia mampu mengekspor produk unggas ke sejumlah negara, tetapi pada saat yang sama masih mengimpor bibit paling dasar dari rantai produksinya. Industri perunggasan tumbuh, namun belum sepenuhnya berdiri di atas fondasi mandiri.

BACA JUGA :  Nyalon Wakil Baelah

Pada akhirnya, ini bukan semata soal ayam atau bibit unggas. Ini soal arah besar kedaulatan pangan. Ketika rantai paling hulu masih bergantung pada luar negeri, maka mimpi swasembada akan selalu berada satu langkah di belakang realitas. (**)