Prosesi kemudian berlanjut ke masjid desa. Warga berbondong-bondong mengikuti salat jenazah, mengiringi kepergian Diva dengan doa. Tak lama setelah itu, jenazah dibawa ke tempat pemakaman umum yang berjarak sekitar 200 meter dari rumahnya. Sekretaris Desa Ngroto, Suswandi, menyebut seluruh persiapan pemakaman telah dilakukan sejak pagi.
”Estimasi pemakaman sekitar jam 12.00 sampai 13.00, kami sudah mempersiapkan semuanya,” ujarnya.
Bagi warga, kepergian Diva meninggalkan luka mendalam. Ia dikenal sebagai pribadi yang mudah bergaul dan penuh keceriaan.
”Anaknya ceria, baik dengan teman-temannya. Kami juga tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi,” kata Suswandi.
Di balik sosoknya yang hangat, tersimpan kisah perjuangan hidup yang tak ringan. Diva berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Orang tuanya bekerja sebagai buruh harian lepas dan petani penggarap. Kondisi itu diduga mendorongnya untuk bekerja di usia yang masih sangat muda.
”Motivasinya ekonomi, tapi juga ada keinginan mandiri. Mungkin ingin punya sesuatu sendiri seperti teman-temannya,” jelas Suswandi.
Ia menambahkan, keputusan Diva untuk bekerja bukan karena paksaan keluarga, melainkan dorongan dari dirinya sendiri. Setelah sempat menempuh pendidikan di pesantren, Diva memilih pulang dan kemudian merantau ke Jakarta. Fenomena remaja bekerja di usia sekolah, menurutnya, bukan hal lazim di Desa Ngroto.
”Kalau seusia itu, hampir tidak ada. Ini mungkin karena kondisi ekonomi dan keinginan mandiri yang muncul terlalu dini,” ungkapnya.
Dari informasi yang diperoleh. Diva bersama satu orang rekannya nekat melompat dari lantai empat sebuah apartemen tempat majikannya, Rabu malam (22/4) sekitar pukul 23.00 WIB. Dalam kejadian itu, Diva meninggal dunia, sementara temannya mengalami luka serius berupa patah tangan dan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Hingga saat ini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait kasus ini.


