BATANG, smpantura – Darurat pendidikan sedang terjadi di Kabupaten Batang. Pasalnya, saat ini Batang kekurangan 1.000 guru kelas dan mata pelajaran. Kondisi ini memaksa sekolah-sekolah melakukan kebijakan menggabungkan kelas hingga merancang program Sarjana Mengajar demi memastikan keberlangsungan proses belajar mengajar.
Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang, Muhammad Arief Rohman, mengungkapkan, kekurangan tenaga pengajar dalam jumlah besar ini dipicu oleh akumulasi guru yang pensiun, guru yang meninggal dunia, hingga ada yang mendapatkan promosi jabatan.
”Dari perhitungan kita, kekosongan guru karena ada yang pensiun, meninggal, kemudian ada juga yang promosi menjadi kepala sekolah dan pengawas. Jika dihitung per kemarin, ada kekosongan 958 guru. Mungkin sekarang ini sudah 1.000,” ujarnya, Senin (2/3).
Arief yang juga Ketua PGRI Batang tersebut menambahkan, persoalan semakin pelik karena rekrutmen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang selama ini berjalan, ternyata belum menjadi solusi penambah jumlah personel guru. Arief menyebut kebijakan tersebut hanya bersifat ganti baju status kepegawaian.
”Pengangkatan P3K ini tidak menambah jumlah guru, hanya merubah status. Ganti status saja, orangnya masih tetap. Yang pensiun ya tetap kosong. Maka saya memandang ini sudah darurat,” tuturnya.
Ia bahkan mengusulkan terobosan ekstrem di tingkat pusat yaitu penyatuan direktorat pensiun dan rekrutmen agar tidak terjadi ketimpangan data yang terus berulang. Selama ini, pemerintah pusat seringkali menggunakan standar rasio, seperti satu guru berbanding 30 siswa untuk menilai kecukupan pengajar. Namun, Arief menilai logika matematika itu mustahil diterapkan di lapangan. Baginya, pendidikan bukan soal angka, tapi soal kehadiran fisik di tiap ruang kelas.


