Kisah Buruh Pabrik di Brebes, Jaga Asa Lewat Rumah Subsidi

Dari rumah itu menuju tempat kerjanya, Nur Atikah hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit perjalanan. Kedekatan akses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa ia merasa rumah subsidi sangat membantu masyarakat pekerja seperti dirinya.

Baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan permanen dengan dinding bercat cerah. Rumah tersebut adalah ruang kecil tempat ia melepas lelah sepulang kerja, mendampingi anak-anaknya tumbuh, dan menyusun harapan tentang kehidupan yang lebih baik.

Kondisi

Di hadapan Menteri dan Gubernur, Nur Atikah juga menceritakan kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang di nilai nyaman untuk di huni. Kawasan perumahan di sebut tidak pernah terdampak banjir. Jalan lingkungan sudah memadai, penerangan tersedia, dan pengangkutan sampah berjalan rutin.

“Alhamdulillah di sini aman, tidak pernah banjir. Kondisinya juga jalannya bagus,” ucapnya.

Kisah Nur Atikah menjadi potret bagaimana program rumah subsidi di rasakan langsung oleh masyarakat berpenghasilan rendah. Di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat, kepemilikan rumah sering kali terasa sulit di jangkau bagi pekerja dengan penghasilan terbatas.

BACA JUGA :  Terungkap, Ini Faktor Utama Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet

Di Perumahan Grand Amartha, rumah subsidi di pasarkan dengan harga sekitar Rp 166 juta untuk tipe 30/60. Kawasan tersebut di kembangkan PT Anugrah Jaya Land dengan total 116 unit rumah di atas lahan sekitar 13,5 hektare.

Perumahan itu telah di lengkapi fasilitas dasar. Yaitu listrik PLN 1.300 watt, pasokan air dari sumur artetis, jalan utama beton selebar tujuh meter, drainase, taman bermain, hingga ruang interaksi warga berupa joglo. Lokasinya juga tidak jauh dari fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, pusat Kota Brebes, dan Mall Pelayanan Publik.