Menelisik Sejarah Candi Pangkuan Cilibur, Bukti Jejak Peradaban Leluhur di Lereng Brebes Selatan

Penemuan Candi Pangkuan ini bermula dari laporan warga sekitar yang menemukan batu-batu besar tersusun rapi di area perkebunan dan hutan. Setelah di teliti oleh pihak terkait, batu-batu tersebut dipastikan merupakan bagian dari bangunan candi. Meski sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat sekitar, namu baru di sekitar tahun 1960-an pemanfaatan kawasan Candi Pangkuan mulai dilakukan secara terbuka oleh masyarakat. Namun Candi Pangkuan saat ini hanya menyisakan struktur berupa susunan batu dan reruntuhan yang belum sepenuhnya direkonstruksi. Hal ini diduga karena faktor usia, bencana alam, serta minimnya dokumentasi pada masa lampau.

Candi Pangkuan ini juga memiliki banyak keunikan. Selain menjadi sebuah situs arkeologi, di kawasan candi ini juga di kenal sebagai habitat alami kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Kera liar ini hidup di lingkungan hutan sekitar situs. Bahkan, masyarakat yang berkunjung bisa dengan mudah melihat dan berinteraksi dengan kera liar tersebut.

BACA JUGA :  Tari Dugderan Tampil di Joglo Ageng Guci

Kekunikan lain, dalam kawasan situs ini juga terdapat makam tua. Di sekitar candi terdapat 40 makam yang tiga di antaranya adalah makam Kyai Wisnu, Kencna Wungu dan Nyi Rantam Sari. Menurut legenda dan cerita masyarakat sekitar makam tersebut merupakan makan orang yang pertama kali menempati daerah Brebes bagian selatan.

Dari berbagai keunikan itu, Candi Pangkuan menyimpan potensi wisata budaya dan edukasi. Jika dikelola dengan baik, situs ini dapat menjadi destinasi alternatif di Brebes selatan. Saat ini Candi Pangkuan masih berada dalam kondisi alami dan belum mengalami pemugaran. Upaya pelestarian dilakukan secara terbatas oleh masyarakat setempat. Di sisi lain situs ini belum ditetapkan secara resmi sebagai cagar budaya. (**)