Pembangunan Kota Tegal, Faruq : No One Left Behind

TEGAL, smpantura – Seratusan warga menghadiri acara Ngobrol Pintar Gagasan Bangun Tegal (Ngopi Sante) bersama Sekjen Ikatan Alumni Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia, Faruq Ibnul Haqi.

Dalam kegiatan yang berlangsung di Gedung KUD Karya Mina, Rabu (28/2/2024) malam, penataan pedagang kaki lima dan Pasar Pagi Kota Tegal, menjadi topik hangat pembahasan.

Salah satu warga, Aris Suroso, berharap ada penataan PKL di Kota Tegal, yang semakin menjamur dan tidak sedikit menggunakan bahu jalan hingga trotoar.

Bahkan, kondisi tersebut terkesan dibiarkan begitu saja dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

“Jika ditata lebih baik, diberi tempat yang layak, mungkin tidak semrawut seperti sekarang ini. Jalanan penuh sesak, macet dan lain-lain. Contohnya di Jalan Kartini,” tegasnya.

Selain itu, keberadaan Pasar Pagi, juga dianggap kurang mendapatkan perhatian. Padahal, Pasar Pagi, menjadi salah satu sentra perekonomian di Kota Bahari.

Menanggapi itu, Faruq Ibnul Haqi menyebut bahwa perlu pendekatan khusus dan dialog, sehingga penataan PKL serta Pasar Pagi dapat dilakukan dengan baik.

“Kami akan turun langsung menemui PKL dan menyerap aspirasi mereka. Apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkan, akan kami telusuri,” jelasnya.

Dengan begitu, nantinya kebijakan-kebijakan yang akan diambil, lebih tepat sasaran dan tetap mengedepankan asas kemanusiaan.

BACA JUGA :  Evening Coffee, Prodi Akuntansi Poltek Harber Bahas Dunia Vokasi dan Industri

“Pada prinsipnya bagaimana usaha-usaha kreatif dan kecil menengah yang ada di Kota Tegal, harus kita support. Karena itu menjadi identitas kita,” imbuhnya.

Terkait Pasar Pagi, Faruq menjelaskan, kemungkinan kondisi lahannya sangat terbatas, sehingga banyak pedagang yang tidak mendapatkan tempat atau lapak.

Faruq mengaku, nantinya para pedagang akan diajak dialog untuk merumuskan dan memecahkan masalah yang ada.

“Pada intinya, saya ingin mendengarkan, sehingga pada saat perumusan visi misi dapat sesuai dengan ekspektasi. Jadi pada saat pembangunan itu betul-betul ‘no one left behind‘ atau tidak ada yang tertinggal,” tegasnya.

Selain itu, dalam pertemuan juga mengemuka permintaan warga yang menginginkan adanya lapangan pekerjaan dan upah minimum kota (UMK) yang layak.

Dengan begitu, generasi penerus atau putra daerah tidak perlu merantau untuk mencari pekerjaan.

“Saya sepakat dengan harapan itu. Ke depan, kita perlu menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat usia produktif, sehingga mereka ikut andil dalam menumbuhkan perekonomian,” tuturnya.

Ke depan, sambung Faruq, akan dilakukan kajian, sehingga didapat formula yang tepat untuk mengatasi pengangguran terbuka, membuka lapangan kerja dan menentukan UMK yang layak. (T03-Red)

Scroll to top
error: