Kekeliruan lain yang di sorot, lanjut dia, adalah soal kepemimpinan rapat formatur. Beberapa laporan menyebut rapat di pimpin oleh figur tertentu yang di sebut tidak tepat. Sebab, yang sebenarnya terjadi rapat tersebut di pimpin oleh perwakilan dari DPW. Bukan oleh individu yang di sebut dalam pemberitaan.
“Ini penting di luruskan karena menyangkut legitimasi proses. Kalau narasinya salah, dampaknya bisa meluas, terutama di kalangan simpatisan,” jelasnya.
Hasil Rapat
Dalam rapat formatur yang di gelar, sambung dia, enam dari tujuh anggota hadir. Forum sempat di warnai perbedaan pendapat sebelum akhirnya di tempuh mekanisme voting. Hasilnya, lima anggota formatur menyepakati komposisi kepengurusan baru. Yakni, Muhammad Sidqi sebagai Ketua DPC. Muhammad Zamroni sebagai Sekretaris. Abdul Haris sebagai Bendahara. Satu anggota lainnya tidak menyatakan persetujuan.
Hasil tersebut telah di tuangkan dalam berita acara resmi dan di tandatangani oleh pihak terkait ( Utusan DPW sebagai ketua formatur dan 4 Formatur dari Unsur PAC). Meski sudah di tetapkan sebagai hasil akhir keputusan sidang formatur dalam menentukan kepengurusan DPC, namun keputusan tersebut belum final secara organisasi.
“Secara mekanisme, hasil formatur tetap harus melalui proses lebih lanjut di tingkat DPW dan DPP. Bahkan, keputusan akhir berada di tangan DPP dan harus mendapat persetujuan ketua umum,” paparnya.
Dengan kata lain, tandas dia, komposisi yang di hasilkan dari Muscab masih berpotensi berubah. Hal itu tergantung pada evaluasi dan rekomendasi dari struktur di atasnya. Situasi ini seharusnya tidak menjadi bahan spekulasi liar. Karena penting untuk menjaga kondusivitas internal partai di tengah dinamika politik lokal.


