Kini, perasaan itu telah sirna. Wawan senang bertemu dengan orang-orang baru, menimba ilmu, dan menambah pengalaman baru. Wajahnya terpancar kebahagiaan. Semangat berkobar Wawan sempat menaikan etos kerjanya. Di awal diperkenalkan dengan batik dan mulai mendalami, pemuda yang suka dengan batik anyaman gedek dan motif bunga-bunga besar itu, mampu menyelesaikan 20 kain dalam lima hari. Padahal, normalnya hanya bisa membatik 4-5 kain dalam sebulan.
“Aku tidak tahu kenapa. Tapi, saat ini semangatku luar biasa,” ucap berapi-api.
Wawan yang diajak Pertamina pada April 2019 itu, telah mampu sedikit membahagiakan orangtuanya. Tiap bulan, Ia mempu menghasilkan pendapatan antara Rp 300 ribu dan Rp 500 ribu. Wawan tak seperti anak pada umumnya, karena uang yang dihasilkan semuanya dikasihkan orangtua. Pasalnya, sejak awal dirinya melukis, tujuan utamanya untuk membantu ekonomi keluarga.
“Aku sangat bersyukur bisa diajari membatik, sehingga bisa membantu ekonomi keluarga,” kata Wawan yang matanya berkaca-kaca.
Kemahiran Wawan dalam membatik tak lepas dari tangan dingin Yunita Lestari yang juga memiliki keterbatasan fisik. Wanita 32 tahun itu, berhasil mengajari teman-temannya yang berkebutuhan khusus untuk membatik. Keahlian membatik bermula saat Pertamina menawarkan untuk sekolah membatik selama tiga bulan di tahun 2017. Dalam sekolah itu, wanita beranak satu itu juga diajari berjalan.
“Awalnya susah, tapi saya bertekat buat bisa batik agar bisa bantu dan membahagiakan orangtua,” ucap wanita berhijab yang tak kuasa menahan sedihnya tercermin dari kata-katanya yang terbata-bata.
Tekat Yunita mengubur masa lalunya yang hanya terkurung di dalam rumahnya. Bahkan, pada mulanya orangtua Yunita tak mengizinkan untuk belajar membatik. Pasalnya, wanita itu sejak kecil tak pernah lepas dari orangtua. Orangtua khawatir tak ada yang mengurusi saat belajar membatik. Namun, tekatnya yang kuat membawanya kekehidupan yang jauh lebih baik.