“Saya sempat bekerja di salah satu perusahaan, tapi saya ingat temen saya, Wawan. Saya pulang untuk mengajarinya membatik,” terang Yunita yang suka membatik motif bunga-bunga itu.
Yunita mengajari Wawan dan keempat teman-temannya yang berkebutuhan khusus. Tak mudah mengajari membatik kepada teman-temannya itu. Namun, Ia selalu memberikan semangat dan motivasi agar bisa membatik.
“Ayo kamu bisa dan harus bisa,” kaya Yunita yang kerap melontarkan kata-kata itu untuk memberikan semangat kepada teman-temannya.
Tekat Yunita mengalahkan segalanya. Bahasa isyarat yang sulit dipelajari, mampu dikuasainya hanya untuk mengajari dua temannya yang memiliki keterbatasan mendengar dan berbicara. Alhasil, kedua temannya juga telah mahir membatik.
Semangatnya untuk mendobrak keterbatasan membawanya bertemu dengan tambatan hatinya. Selama bersekolah membatik, Ia bertemu dengan seorang pria dengan keterbatasan yang sama. Goresan malam membawanya merajut dalam cinta yang terikat dalam sebuah pernikahan di tahun 2018 lalu. Kini, keduanya telah dikaruniani seorang anak yang cantik, Ika Nurjanah yang telah berusia tiga tahun.
Koordinator Workshop Sriekandi Patra Boyolali, Siti Fatimah menjelaskan, Sriekandi Patra terbentuk pada 9 April 2018 dan dikukuhkan dan berpindah ke gedung workshop Sriekandi Patra pada 18 Oktober 2019. Workshop Sriekandi Patra sudah menghasilkan motif kain batik bernama Lembu Patra. Kain batik motif Lembu Patra juga sudah dipatenkan.
“Motif ini spesial karena ada logo Pertamina dan gambar hewan sapi yang merupakan khas Boyolali,” ujarnya.
Unit Manager Communication, Relations dan CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Tengah, Brasto Galih Nugroho menuturkan, pihak Pertamina tak hanya memberikan bantuan berupa materi. Namun, juga pendampingan dan peningkatan keterampilan.