“Yang membedakan media mainstream adalah pemberitaannya belum keluar kalau belum di sertai data-data yang lengkap,” ujarnya.
Di sisi lain, Taj Yasin mengakui homeless media memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens muda melalui konten cepat dan visual yang lebih sesuai dengan pola konsumsi informasi generasi saat ini.
Karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan homeless media saling berhadapan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya berkolaborasi untuk membangun ruang informasi yang sehat sekaligus mendukung demokrasi.
“Nah, ini yang saya senang. Ada pertemuan antara media mainstream dengan homeless media sehingga nanti ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan masyarakat dan mengawal negara ini,” katanya.
Kolaborasi
Menurut Taj Yasin, kolaborasi tersebut penting agar ruang digital tidak di penuhi informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ia khawatir jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar jurnalistik, maka masyarakat akan kesulitan membedakan informasi valid dan tidak valid.
“Kalau homeless media mendominasi tanpa adanya pendampingan dari media mainstream, yang kita khawatirkan adalah pemberitaan yang tidak tepat. Itu yang menjadi musuh bersama, yaitu hoaks,” ujarnya.
Ia juga menilai media berperan penting membantu pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. Salah satu contohnya adalah kasus pemutusan kontrak kerja di sebuah perusahaan boneka di Kabupaten Sragen yang sempat ramai di beritakan media.
Menurut dia, setelah kasus itu menjadi perhatian publik, pemerintah dapat segera turun tangan sehingga sebagian pekerja terdampak berhasil di alihkan ke perusahaan lain.



