“Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita tangani karena adanya pemberitaan,” katanya.
Dalam sambutannya, Taj Yasin juga mengingatkan media arus utama agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman. Ia menilai generasi saat ini lebih tertarik pada konten audio visual di banding tulisan panjang.
Karena itu, media mainstream di dorong mulai mengembangkan model penyajian konten yang lebih visual dan dekat dengan generasi muda, tanpa meninggalkan prinsip verifikasi dan kode etik jurnalistik.
“Sekarang minat bacanya berubah. Anak-anak lebih suka audio visual. Maka media harus mengikuti zaman, tetapi tidak meninggalkan validitas data,” ujarnya.
Penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono, mengatakan forum tersebut memang di rancang untuk mempertemukan media lokal, media digital, hingga homeless media guna membahas masa depan industri media di Jawa Tengah.
Selain diskusi, kegiatan juga di isi workshop pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk media lokal.
“Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas,” kata Suwarjono. (**)



