“Masalahnya berada di Sungai Cacaban yang meluap. Wilayah Pantura merupakan muara menuju laut, sehingga desa-desa di wilayah muara terkena banjir,” terang Aji.
Menurutnya, banjir melanda wilayah Pantura hampir setiap musim hujan. Namun, banjir di tahun ini di nilai cukup parah. Di Kecamatan Suradadi ada 4 desa yang terendam, yakni Sidaharja, Jatibogor, Jatimulya, dan Dukuh Semendot Desa Karangmulya. Tahun sebelumnya, banjir tidak separah ini hanya merendam Desa Jatibogor dan Sidaharja.
“Ini cukup parah karena intensitas hujan sangat tinggi. Termasuk, wilayah-wilayah yang telah di normalisasi,” ujarnya.
Warga RT 11/RW 06, Desa Sidaharja, Kecamatan Suradadi, Mohammad Rifai mengungkapkan, hujan deras terjadi sejak Minggu (15/2) malam. Kemudian air mulai menggenangi jalan desa dan masuk ke permukiman warga pada Senin (16/2/2025) dini hari sekira pukul 01.00 WIB.
Lahir dan tinggal di Desa Sidaharja, Rifai menyebut banjir kali ini yang terbesar dan paling parah.
“Banjir terbesar sepanjang sejarah Desa Sidaharja Kabupaten Tegal. Luar biasa parah karena daerah rumah saya yang biasanya tidak pernah banjir kali ini terdampak,” ungkap Rifai. (**)


