TEGAL, smpantura – Pondok Pesantren Nururrokhayah Kota Tegal menjadi titik ke-17 kegiatan Gerakan Santri Menulis (GSM) yang diselenggarakan Suara Merdeka, Senin 9 Maret 2026.
Kegiatan ini diikuti para santri kelas 8-9 dan kelas 10-11 sebagai bagian dari upaya menumbuhkan tradisi literasi di lingkungan pesantren.
Ketua Yayasan Ponpes Nururrokhayah, H. Edi Utomo, menyambut baik pelaksanaan GSM di pesantren yang dipimpinnya.
Edi bersyukur lembaganya dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai menjadi kesempatan baik bagi para santri untuk mengasah kemampuan menulis.
Dalam sambutannya, Edi meminta para santri mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menindaklanjuti ilmu yang diperoleh setelah kegiatan selesai.
Menurut Edi, santri harus terus melatih diri mengembangkan ilmu pengetahuan.
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, kebiasaan menulis perlu terus dipupuk.
“Dengan menulis, kita bisa meninggalkan jejak sejarah. Karena itu santri harus kuat dan selalu haus terhadap ilmu pengetahuan,” ujar Edi.
Edi juga mengingatkan agar para santri meneladani ulama salaf yang banyak menghasilkan karya tulis.
Menurut Edi, kemampuan menulis harus diawali dengan keinginan kuat untuk membaca, baik membaca tulisan maupun memahami berbagai fenomena yang terjadi di sekitar.
“Kalau tidak mau membaca dan belajar, kita bisa tertinggal dan dilindas zaman,” kata Edi.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Nururrokhayah, KH Zamzami, menuturkan bahwa pesantren tersebut sebenarnya telah memperoleh izin sejak tahun 2014.
Namun pada saat itu, lokasi yang kini menjadi kompleks pesantren masih berupa area persawahan dan baru memulai tahap pembangunan.


