Slawi  

Konten AI Melimpah, Penulis Dituntut Punya Karakter dan Gagasan Kritis

SLAWI, smpantura – Tulisan berbasis artificial intelligence (AI) cenderung netral dan datar. Meski terlihat meyakinkan, refleksinya kurang mendalam karena minim sudut pandang atau pengalaman personal penulis yang biasanya tajam dan kritis.

Sisi inilah yang menjadi nilai lebih seorang penulis berdasarkan pengalaman, rekaman pengetahuan, olah pikir, dan kemampuan menuangkan gagasan melalui tulisan.

Hal itu di sampaikan Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tegal Hari Nugroho saat membuka Bimbingan Teknis Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal di auditorium kantor setempat, Jumat (17/4/2026).

Menurutnya, kemampuan menulis harus terus di latih di tengah perkembangan pesat teknologi AI yang memungkinkan ribuan artikel di produksi dalam waktu singkat. Di sisi lain, pembaca kini lebih menyukai tulisan ringkas, cepat, dan visual seperti story atau carousel di media sosial. Penulis harus punya suara khas, keberanian berpikir, dan empati, bukan sekadar merangkum.

BACA JUGA :  Belasan Ribu Warga Hadiri Ndaru Bersolawat di Trasa Slawi

“AI memang bisa membantu dalam proses penulisan, tapi jangan sampai mengurangi orisinalitas. Jadi penempatan AI cukup sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar,” ujarnya.

Bimtek

Sebelumnya, Kepala Bidang Perpustakaan Disperpusip Kabupaten Tegal Sri Handayani menjelaskan bimtek kepenulisan akan digelar tiga sesi di hari berbeda. Sebanyak 50 peserta dari unsur pustakawan, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum hadir di sesi perdana ini.

Setelah melalui sesi pembimbingan dan penyuntingan, hasil karya tulis peserta berupa esai maupun artikel ilmiah populer terkait budaya lokal akan di bukukan menjadi antologi dan di cetak terbatas sebanyak 60 eksemplar.