TEGAL, smpantura – Anggota Komisi X DPR RI H. Abdul Fikri Faqih mengingatkan, digitalisasi pendidikan adalah sebuah kenyataan yang harus dikelola secara bijak sejak pandemi COVID-19 melanda. Meski teknologi tak terbendung, namun terjadinya 46 persen learning loss atau ketertinggalan pembelajaran akibat Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), yang kini menjadi tantangan serius bagi penerapan pendidikan karakter di sekolah.
Hal itu diutarakan Fikri Paqih saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) dalam Workshop Pendidikan bertema ‘Implementasi Digitalisasi Pembelajaran’ yang diselenggarakan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI di Hotel Kotta Go, Kota Tegal, Kamis (30/4/2026).
Ia merujuk, pada temuan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pascapandemi yang terungkap dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI pada tahun 2023 lalu.
“Digitalisasi adalah sebuah kenyataan yang harus kita hadapi dan kelola dengan bijak, paling tidak sejak era Covid-19 tahun 2020 lalu. Namun, catatan Kemendikbudristek (saat itu, tahun 2023) bahwa terjadi kurang lebih 46 persen learning loss akibat PJJ harus benar-benar kita perhatikan,”kata legislator Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPR RI ini.
Lebih lanjut, dia memaparkan, sejumlah hambatan teknis maupun fundamental yang membekas selama PJJ berlangsung. Di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang bersifat praktik murni menjadi terhambat lantaran ketiadaan fasilitas tatap muka dan bengkel kerja.
“Selain itu, sulitnya penerapan pendidikan karakter ketika pembelajaran dilakukan secara daring menjadi perhatian ekstra para praktisi pendidikan, khususnya para guru,” imbuh legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Jawa Tengah IX (Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes) ini.


