“Kami mengetuk kepedulian masyarakat sekitar untuk saling membantu,” harapnya.
Kisah Alfin
Alfin menceritakan, sebelumnya ia bersama adiknya tinggal di Cileungsi Bogor bersama ibunya, Serli. Karena sesuatu hal, mereka pindah ke rumah neneknya di Bulakpacing. Namun, ibunya terpaksa bekerja ke Pulau Bali untuk bisa menghidupi kedua anaknya itu. Tiap bulan, ibunya mengirimkan uang saku untuk Alfin dan adiknya tidak menentu atau kurang dari Rp500 ribu.
“Terkadang tidak sarapan agar uangnya cukup,” kata Alfin.
Alfin mengaku berangkat menggunakan sepeda dengan adiknya. Alfin mengantarkan adiknya terlebih dahulu ke SDN Adiwerna 3 baru ke SMPN 3 Adiwerna. Biasanya berangkat sekitar pukul 05.30-06.00 WIB. Jika sepedanya rusak, maka terpaksa jalan kaki.
“Ya pernah berangkat jam 3 atau 4 pagi, kalau sepedanya rusak,” ujarnya.
Kondisi itu di benarkan neneknya, Rayi. Nenek berkerudung itu mengakui kalau sepedanya rusak terpaksa jalan kaki. Tapi, terkadang adanya saudaranya yang berangkat ke pasar pada pagi hari, mengantarkan ke sekolah. Untuk uang saku mengandalkan kiriman dari ibunya.
“Kalau sarapan biasanya beli, dan makan siang tak siapkan di rumah,” ujar Rayi.
Perangkat Desa Bulakpacing, Aida menjelaskan, Alfin dan Nova merupakan warga pendatang yang baru bermukim selama 8 bulan. Bahkan, kedua anak dan ibunya itu, belum pindah tempat. Ia mengaku tengah mengurus administrasi kependudukan untuk bisa memiliki Kartu Keluarga.
“Belum lamai ini, Alfin juga mendapatkan bantuan dari Kapolres Tegal,” kata Aida. (**)


