Menurutnya, para tokoh tersebut bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga memberikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Tokoh-tokoh seperti Mbah Maimoen bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan hidup. Itu yang membuat beliau begitu di cintai banyak kalangan,” ujarnya.
Sosok Ayah
Putra Mbah Moen itu mengenang sosok ayahnya sebagai pribadi sederhana yang memiliki pandangan luas dan perhatian besar terhadap masyarakat.
Banyak nasihat beliau, kata Gus Yasin, yang baru dipahami maknanya setelah dijalani dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, tantangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan pendidikan formal semata. Namun, juga tentang bagaimana menjaga nilai kebijaksanaan, empati, dan keteladanan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
Karena itu, ia berharap tradisi pengajian, ruang diskusi, dan pertemuan masyarakat seperti haul dapat terus di lestarikan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana penting untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan lintas generasi.
“Yang terpenting adalah bagaimana ilmu dan keteladanan itu bisa memberi manfaat bagi masyarakat luas,” katanya.
Gus Yasin juga optimistis nilai-nilai kebersamaan dan budaya saling menghormati masih kuat di tengah masyarakat Indonesia. Menurutnya, selama masyarakat tetap dekat dengan tokoh-tokoh yang membawa pesan kedamaian dan kemanusiaan, kehidupan sosial akan tetap terjaga dengan baik. Kedekatan tersebut di nilai penting untuk menjaga harmoni dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Sebagai informasi, KH Maimoen Zubair wafat pada 6 Agustus 2019 atau bertepatan dengan 5 Dzulhijjah 1440 Hijriah di Makkah, Arab Saudi. Sosok pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang tersebut hingga kini masih dikenang luas sebagai figur pemersatu dan panutan masyarakat dari berbagai kalangan. (**)



