Kentongan di Nusantara, Begini Sejarah dan Asal Usulnya

TEGAL, smpantura – Kentongan merupakan salah satu alat komunikasi tradisional yang sangat di kenal di berbagai daerah di Nusantara. Alat ini biasanya terbuat dari kayu atau bambu yang di lubangi bagian tengahnya. Sehingga menghasilkan bunyi nyaring ketika di pukul.

Namun keberadaan kentongan yang sudah menjadi bagian dari sejarah serta budaya bangsa semakin di tinggalkan. Itu karena tersingkir dengan alat komunikasi moderen, seperti pengeras suara hingga telepon genggam.

Di masa lalu, kentongan menjadi sarana penting untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Terutama sebelum adanya pengeras suara, telepon, maupun teknologi komunikasi modern.

Asal Usul Kentongan

Sejarah kentongan di perkirakan telah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan kuno di Nusantara. Dari hasil penelusuran smpantura.news, beberapa ahli budaya menyebutkan kentongan ini berkembang dari kebiasaan masyarakat agraris. Yakni, yang membutuhkan alat komunikasi jarak jauh untuk memberi tanda bahaya, mengumpulkan warga, hingga penanda waktu.

BACA JUGA :  Satu Pegiat Sastra Tegalan Masuk Nominasi Anugerah Kebudayaan Jateng 2025

Dalam masyarakat Jawa dan Bali, kentongan sering di temukan di gardu ronda, balai desa, masjid, hingga pura. Bunyi kentongan memiliki pola tertentu yang dapat di maknai berbeda oleh warga. Misalnya, bunyi cepat bertalu-talu menandakan bahaya seperti kebakaran atau pencurian, sedangkan bunyi teratur di gunakan sebagai panggilan berkumpul.

Pada masa kerajaan Hindu-Buddha hingga Kesultanan Islam di Nusantara, kentongan juga di pakai sebagai alat komunikasi resmi di lingkungan kerajaan dan masyarakat desa. Bahkan, di sejumlah daerah, kentongan menjadi bagian dari sistem keamanan tradisional yang di kenal dengan ronda malam atau siskamling.

Kentongan di Berbagai Daerah

Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki bentuk dan cara penggunaan kentongan yang berbeda. Di Jawa misalnya, kentongan identik dengan ronda malam dan masjid. Sedangkan di Bali, kentongan di kenal sebagai kulkul dan di gunakan di pura maupun banjar adat.