Kerja Bawa Anak, Driver Ojol Curhat ke Ahmad Luthfi

Sementara dua anaknya yang lain masih duduk di bangku sekolah dasar, masing-masing kelas 1 dan kelas 3 SD.

Bagi Ratna, bekerja sambil mengasuh anak bukan pilihan yang nyaman. Namun keadaan memaksanya bertahan. Ia mengaku tidak sanggup membayar pengasuh anak. Sementara meninggalkan anak di rumah juga bukan pilihan yang mudah.

“Kalau ngojek online sambil momong anak dari pagi sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong nggak sanggup bayarnya. Was-was juga setiap ajak anak, tapi mau gimana lagi. Kalau nggak kerja nggak bisa makan,” tuturnya lirih.

Karena itu, Ratna menyambut baik wacana penyediaan fasilitas day care bagi driver ojol yang sebelumnya di sampaikan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, banyak driver perempuan lain yang menghadapi persoalan serupa.

“Setuju saja kalau ada day care. Soalnya ada teman ojol lain yang juga kerja sambil momong anak,” katanya.

BACA JUGA :  Taj Yasin Ajak Danlanal Perkuat Kolaborasi Menjaga Keamanan Maritim

Namun persoalan para driver ojol, menurut Ratna, tidak berhenti pada urusan pengasuhan anak. Selama hampir satu dekade bekerja, ia merasakan semakin beratnya tekanan ekonomi akibat tarif rendah dan tingginya potongan aplikasi.

Dalam sehari, Ratna bisa menyelesaikan sekitar 10 orderan dengan nilai pendapatan kotor Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Setelah di potong aplikasi dan kebutuhan operasional, uang yang benar-benar di bawa pulang hanya sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.

Aspirasi

Luthfi mengatakan, aspirasi para driver ojol sudah ia terima dan akan terus di kawal oleh pemerintah provinsi. Sehari sebelum aksi berlangsung, perwakilan driver ojol juga telah bertemu langsung dengannya untuk menyampaikan berbagai tuntutan.