Ia mengingatkan, Presiden Prabowo Subianto menargetkan Indonesia menuju zero waste pada 2029. Karena itu, menurutnya, Gerakan Jateng ASRI harus menjadi gerakan nyata, tidak boleh berhenti pada seremoni semata.
“MoU saja tidak cukup. Harus ada action plan yang jelas dan terukur. Saya minta seluruh bupati dan wali kota segera menyerahkan data konkret penanganan sampah di wilayahnya untuk dibawa dalam rapat di tingkat pusat,” tegasnya.
Program Lain
Selain persoalan sampah, Ahmad Luthfi juga menyoroti pentingnya menjaga garis pantai Jawa Tengah yang mencapai sekitar 920 kilometer. Ia meminta program penghijauan pesisir, termasuk Gerakan Mageri Segoro, kembali di gencarkan di 17 kabupaten/kota yang memiliki garis pantai.
Penanaman mangrove dan vegetasi pesisir di nilai sebagai langkah preventif untuk menekan risiko abrasi dan bencana lingkungan. Pada Desember 2025, penanaman hampir mencapai dua juta bibit dan di targetkan meningkat pada 2026.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, menjelaskan, aksi bersih sampah tersebut merupakan tindak lanjut Surat Edaran Gubernur tentang Gerakan Jawa Tengah ASRI.
“Pada hari ini aksi bersih sampah dan penanaman pohon di laksanakan serentak di 35 kabupaten/kota pada waktu yang sama, dan sebagian besar bupati/wali kota memimpin langsung kegiatan di daerah masing-masing,” ujarnya.
Ia juga memaparkan perkembangan pengelolaan sampah di Jawa Tengah. Pengolahan sampah berbasis refuse derived fuel (RDF) telah berjalan di Kabupaten Cilacap, Banyumas, dan Magelang. Sementara pengolahan sampah menjadi energi listrik telah beroperasi di Kota Surakarta.


