”Kalau di Pantura itu khan sudah jelas, sejak zaman Daendels sudah dibuat jalurnya dan kemudian berkembang. Tapi yang di Jasela selama ini tidak buat jalur ekonominya. Di selatan tidak ada jalurnya, padahal ada sekian banyak potensi disitu,” tuturnya.
Dirinya mengungkapkan, Jasela seperti tidak punya ruang untuk berkembang karena kurangnya sentuhan dari provinsi ke wilayah selatan. Akibatnya Jasela kerap tertinggal baik dari sisi infrastruktur, akselerasi ekonomi maupun pertumbuhan kawasannya. Kholik mencontohkan di sekitar tempat tinggalnya, ada jalan provinsi di tempat saya cuma 10 Km, dan selama 15 tahun tidak selesai ditangani.
”Itu bisa menjadi gambaran, semakin lama tidak tertangani, maka semakin banyak peluang yang hilang,” ucapnya.
Ditambahkan, poros ekonomi yang dimaksud berbasis kolaborasi antar daerah dalam suatu kawasan. Di Jawa Tengah misalnya bisa didesain poros Jateng utara, Jateng selatan atau Jateng timur. Dirinya mengaku sudah membikin kajian soal Jasela. Selanjutnya dirinya juga ingin membuat kajian simpul Pekalongan Raya atau Jateng wilayah Pantura Barat. Jika Pekalongan Raya atau Pantura Barat ini bisa diintegrasikan menjadi sebuah kawasan, lanjut dia, akan sangat bagus sebagai ikhtiar memajukan ekonomi kawasan.
”Nanti bisa lebih dilihat apa peluangnya, apa masalahnya dan apa solusinya. Jadi jangan semua tarikannya dari Semarang. Karena kalau itu yang terjadi, hari ini, kami yang di wilayah selatan hampir tidak punya ruang untuk berkembang karena kurangnya sentuhan dari provinsi,” tuturnya.
Kholik mencontohkan, untuk wilayah Solo Raya, konsep pengembangan kawasannya sudah ditemukan yaitu aglomerasi. Dan beberapa waktu lalu ada contoh menarik dimana di Solo Raya membikin program Solo Raya Great Sale (SGS). SGS adalah program dimana semua pelaku usaha dari mall, hotel, kafe sampai pasar tradisional membuat kegiatan bersama berisi festival diskon, event wisata dan promosi daerah dalam satu paket. Dan yang mengejutkan, transaksi dalam satu bulan dari SGS sangat besar sekitar Rp 10,7 triliun.


