“Kondisi bibir sumbing sering kali menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari kesulitan makan, minum, hingga berbicara. Mudah-mudahan melalui operasi ini para pasien, khususnya anak-anak, dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal,” ujarnya.
Agenda Rutin
Ia menambahkan, kegiatan ini di harapkan menjadi agenda rutin. Karena tidak hanya membantu penanganan bibir sumbing, tetapi juga mendukung pencegahan stunting melalui edukasi. Khususnya di pentingnya pemenuhan gizi dan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC).
Country Manager Smile Train Indonesia Deasy Larasati mengapresiasi komitmen Pemkab Tegal dan RSUD dr. Soeselo Slawi dalam mendukung program kemanusiaan ini. Ia menjelaskan, Smile Train saat ini bekerja sama dengan 81 rumah sakit di seluruh Indonesia dan membantu sekitar 8.000 operasi bibir sumbing setiap tahun. Angka kelahiran bayi dengan kondisi bibir sumbing maupun celah langit-langit di Indonesia masih berkisar 7.000 hingga 8.000 kasus per tahun.
“Anak-anak dengan kondisi bibir sumbing menghadapi tantangan fisik maupun psikologis. Karena itu, dukungan pemerintah daerah, rumah sakit, dan masyarakat sangat penting. Agar mereka tetap mendapatkan hak untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik,” ujar Deasy.
Bagi puluhan keluarga yang hadir dalam dua hari kegiatan itu, operasi ini bukan sekadar prosedur medis, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih baik. Di mana anak-anak mereka dapat tumbuh, belajar, dan tersenyum dengan penuh percaya diri.
Farikhatun tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ibu muda asal Kecamatan Jatinegara itu tampak sumringah saat melihat anaknya, Muhammad Jazil Attaillah (3 tahun), selesai menjalani operasi bibir sumbing yang ketiga, semuanya gratis. Bagi Farikhatun, setiap operasi adalah selangkah lebih dekat menuju senyum sempurna sang buah hati.



