Pemprov Jateng Gandeng Rifa’iyah Kuatkan UMKM, Pendidikan, dan Dakwah Berbasis Keteladanan

Ia menyoroti bagaimana dakwah tidak selalu berbuah cepat, bahkan bisa dihadapkan pada penolakan. Nabi Yunus, misalnya, sempat meninggalkan kaumnya di Ninawa karena tidak dihiraukan. Namun justru setelah itu masyarakat berbalik kepada tauhid. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendapatkan penguatan melalui peristiwa Isra Mikraj di tengah tekanan dakwah.

Dua kisah tersebut, menurut Gus Yasin, memberi pesan yang sama bahwa konsistensi dan keteguhan lebih penting daripada ukuran keberhasilan jangka pendek.

“Dakwah itu tidak boleh ‘ngambek’. Didengar atau tidak, ada pengikut atau tidak, harus tetap jalan. Itu pelajaran penting bagi pemimpin,” ujarnya.

Pesan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa organisasi seperti Rifa’iyah tidak boleh merasa kecil. Apalagi, kontribusinya dalam khazanah keilmuan Islam di Jawa sudah meluas, bahkan melintasi batas organisasi seperti Nahdlatul Ulama.

BACA JUGA :  Ganjar Sambangi Petani Bawang dan Cek Hasil Bedah Rumah di Brebes

Ajaran dan karya Ahmad Rifa’i disebut masih menjadi rujukan lintas kalangan, baik dalam bentuk kitab maupun syiiran yang hidup di masyarakat pesantren.

“Banyak kiai di Jawa Tengah belajar dari ulama Rifa’iyah. Ini menunjukkan pengaruhnya besar, bukan hanya internal, tapi juga untuk umat secara luas,” tambahnya.

Karena itu, Pemprov Jateng memandang penting sinergi lintas organisasi keagamaan untuk menjaga keseimbangan antara penguatan agama dan kebangsaan. Figur Ahmad Rifa’i sendiri telah diakui sebagai pahlawan nasional, menegaskan peran historisnya dalam perjuangan Islam sekaligus kemerdekaan Indonesia.

Melalui Mukerwil ini, pemerintah berharap Rifa’iyah merumuskan program kerja yang tidak hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun sosial keagamaan.