Penjelasan Dosen ITB soal Pertalite jadi boros, ternyata kesalahan saat mengisi di SPBU

 

NASIONAL, smpantura – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite pada 3 September lalu yang awalnya Rp 7.650 menjadi Rp 10 ribu per liter bikin masyarakat heboh. Pasalnya pengguna BBM subsidi ini cukup banyak, khususnya para pengendara sepeda motor.

Di tengah kehebohan kenaikan harga Paertalite tersebut, sempat viral juga anggapan Pertalite jadi lebih boros. Bahkan sempat beredar juga perbandingan gambar antara Pertalite sebelum kenaikan harga dan yang terbaru.Terkait hal tersebut, pihak Pertamina sudah memberikan klarifikasi bahwa tidak ada penurunan kualitas Pertalite setelah kenaikan harga. Katanya kualitas Pertalite yang dijual sekarang sama seperti sebelum adanya kenaikan harga BBM ini.

Dilansir dari otomania.gridoto.com, perihal anggapan Pertalite baru setelah kenaikan harga menjadi boros, penyebabnya dijelaskan oleh dosen (ITB). Menurut Tri Yuswidjajanto Zaenuri, ahli Konversi Energi Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Tak sedikit kebiasaan pemilik kendaraan membeli bensin berdasarkan nominal (patokan) Rupiah, bukan literan,” ungkap Pak Yus, sapaan akrabnya.

Tak sadar, kenaikan harga Pertalite dengan pembelian nominal yang sama tentu mengurangi jumlah literan yang didapat. Sebelum kenaikan harga BBM, Pertalite dijual Rp 7.650/liter sekarang menjadi Rp 10.000/liter.

“Karena lebih sedikit dapatnya jadi penggunaan Pertalite terasa lebih boros dari segi jarak tempuh yang bisa dicapai,” ujar Pak Yus.

Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu adanya perubahan kandungan nilai kalor di dalamnya. Nilai kalor bisa berubah dari proses pengolahan minyak mentah di kilang menjadi nafta. nafta adalah jenis hidrokarbon cair produk selang kilang minyak.

BACA JUGA :  Stok Pupuk Bersubsidi di Kabupaten Tegal Sekitar 6.349 Ton

“Nilai kalor menentukan besaran energi densitas per liter yang dihasilkan dari massa jenis bahan bakar,” terang Pak Yus.

Dalam pembuatan bahan bakar, nafta yang dihasilkan terkadang bisa tinggi atau bisa rendah bergantung dari kualitas minyak mentah yang dihasilkan.

“Karena spesifikasi nafta hasil produksi kilang berubah-ubah terus, maka setiap parameter spesifikasi bahan bakar dinyatakan dalam batasan minimum dan maksimum,” jelas Pak Yus.

Pada BBM jenis Pertalite, batasan rentang massa jenis densitas energi 715 kg/m3 sampai 770 kg/m3. Ketika massa jenis yang didapat paling rendah, densitas energi yang dihasilkan lebih kecil. Sehingga energi per liter Pertalite yang dibakar oleh mesin menghasilkan tenaga yang rendah.

Inilah yang membuat konsumsi BBM jadi lebih boros karena untuk tenaga yang setara butuh volume bahan bakar lebih banyak. Selain dari proses pengolahan, nilai kalor juga bisa berubah akibat suhu udara dan tangki bahan bakar.

Ketika suhu meningkat maka massa jenis bahan bakar akan mengembang. Namun densitas energi yang dihasilkan bisa lebih kecil sehingga energi yang dibakar lebih rendah. Pak Yus juga melihat isu Pertalite pasca kenaikan harga mudah menguap.

“Kalau penguapan rasanya tidak mungkin, kerugian SPBU bisa sangat besar karena sudah ada target minimum volume Pertalite yang dijual harian,” kata Pak Yus.

“Jika penguapan berlebih, volume Pertalite yang diterima tidak sebanyak saat diisi ke kendaraan,” tandasnya. (**-Red)

 

Sumber: otomania.gridoto.com

Scroll to top
error: