Siapkah UMKM Hadapi Resesi 2023

Prediksi terjadinya resesi di tahun 2023 terus bermunculan. Sebenarnya apa yang akan terjadi jika resesi tersebut terjadi di Indonesia? Resesi ekonomi dapat diartikan sebagai penurunan kegiatan ekonomi yang signifikan dan berlangsung lama.

Menurunnya daya beli masyarakat, yang berdampak pada turunnya pendapatan perusahaan, PHK massal dan meningkatnya jumlah pengangguran. Kabar terburuknya adalah resesi yang berkelanjutan berdampak pada kebangkrutan ekonomi suatu negara.

Di antara penyebab kondisi perekonomian dunia terpuruk adalah wabah Covid-19 dan inflasi yang tinggi. Penting untuk diketahui saat ini data inflasi dari Bank Indonesia setiap bulannya selalu meningkat dari tingkat inflasi sebesar 2,18 persen di bulan Januari 2022 hingga terakhir di bulan September 2022 naik mencapai 5,95 persen.

Inflasi adalah menurunnya nilai mata uang. Sebagai contoh nilai rupiah di Indonesia. Jika sebelumnya uang seratus ribu rupiah dapat digunakan untuk berbelanja banyak barang, maka ketika terjadi inflasi menyebabkan kita tidak lagi mampu membeli barang dengan jumlah yang sama.

Ketika konsumsi masyarakat menurun, maka perusahaan penghasil produk dan jasa pun juga menurun penghasilannya, berlanjut pengurangan karyawan karena beban operasional yang tinggi.

Kondisi menurunnya daya beli masyarakat yang secara terus menerus dan berlangsung dalam waktu yang lama itulah yang dinamakan resesi.

Kesiapan Umkm Hadapi Resesi
Apakah usaha, kecil, mikro, dan menengah (UMKM) sudah siap jika harus menghadapi resesi? Bila resesi terjadi di tahun 2023, tanpa persiapan dan pengetahuan yang cukup, cepat atau lambat, dunia UMKM akan menurun penjualannya dan beban operasional akan semakin meningkat. UMKM dapat diprediksi akan terpuruk.

BACA JUGA :  OJK Gelar Edukasi Keuangan Bagi Pelaku UMKM di Kabupaten Tegal

Berikut ini adalah langkah persiapan UMKM dalam menghadapi resesi. Pertama, hapus mental block. Informasi tentang kesulitan yang akan dialami saat resesi terjadi, membuat UMKM tak lagi berpikir kreatif dan inovatif.

Peran UMKM yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07 persen di tahun 2021 merupakan bukti bahwa UMKM mampu bertahan dalam kondisi krisis.

Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran untuk kita, bahwa dibalik kesulitan akan muncul kemudahan dan peluang baru. Seperti pemanfaatan e-commerce dan virtual conference.

Kedua, persiapkan dana darurat. Dana darurat adalah dana cadangan yang disimpan untuk kebutuhan yang tidak bisa diprediksi di kemudian hari. Simpan dana darurat di tempat aman seperti di reksadana atau berinvestasi emas batangan. Pastikan nilainya 12 kali pengeluaran setiap bulan.

Ketiga, bijak pada peluang bisnis baru. Walaupun bermunculan peluang bisnis baru jangan sampai membuat fokus pengusaha UMKM teralihkan dari bisnis utama. Peluang bisnis baru ini adalah sarana untuk menyebar risiko apabila terjadi kendala pada bisnis utama.

Terakhir, hemat anggaran. Inflasi diakibatkan menurunnya nilai mata uang, dimana uang mengalami penurunan nilai. Di saat pendapatan semakin menurun, cobalah hindari pola konsumtif. Ini adalah cara efektif melakukan penghematan anggaran. Demikian beberapa hal yang dapat dilakukan oleh UMKM dalam mengantisipasi datangnya resesi di tahun 2023.

Scroll to top
error: