Ia mengutip pesan Nabi Muhammad kepada sahabat, bahwa surga dijamin bagi mereka yang mau mengurus keperluannya sendiri.
“Jujur saja, menjadi Wakil Gubernur itu terkadang terasa jauh dari surga karena apa-apa sudah disiapkan. Mau makan sudah diambilkan, mau cuci piring dilarang ajudan. Padahal, melakukan pekerjaan rumah sendiri adalah ibadah yang luar biasa,” ungkapnya.
Untuk mengimbangi hal tersebut, Gus Yasin mengaku tetap berusaha mengerjakan hal-hal kecil secara mandiri saat di rumah, seperti mencuci piring atau pakaian sendiri.
Kehadiran Gus Yasin di acara itu juga didampingi beberapa pejabat baru, termasuk Kepala Biro Kesra Setda Jateng. Kepada para bawahannya, ia berpesan agar pejabat tidak terjebak dalam rasa bangga akan jabatan.
Ia mencontohkan bagaimana pemimpin di Indonesia sering kali merasa tersinggung jika kehadirannya tidak disambut atau dijemput dengan meriah. Sebaliknya, Gus Yasin mengajak para pemangku kebijakan untuk mencontoh akhlak Sayyidah Khadijah (Istri Nabi) karena ketulusannya melayani tanpa merasa lelah.
“Tugas kita sebagai pemerintah bukan hanya soal administrasi, tapi memastikan masyarakat tenang dan bisa tercukupi kebutuhannya. Masuk ke pasar untuk memastikan harga stabil agar rakyat bisa makan, itu adalah bagian dari takwa kita sebagai pelayan masyarakat,” jelasnya.
Menutup tausiyahnya, Gus Yasin mengajak seluruh jamaah dan aparatur pemerintah yang hadir untuk kembali pada prinsip Husnul Khuluq atau akhlak mulia.
Menurutnya, kesuksesan seorang pemimpin tidak diukur dari megahnya protokoler, melainkan dari seberapa dekat dan bermanfaatnya ia bagi orang-orang di sekitarnya.(**)


