Pergulatan batin tokoh utama semakin kompleks dengan hadirnya sosok mendiang ibunya dalam mimpi yang memberi nasihat, berhadapan dengan leluhur kejam bernama Kakek Jinada yang mendorongnya tetap berada di jalan keserakahan.
Pertarungan antara nilai kebajikan dan kerakusan tersebut menjadi inti cerita yang sarat kritik sosial. Melalui pertunjukan ini, penonton di ajak merefleksikan kondisi sosial. Sekaligus menyaksikan kemungkinan perubahan seorang pemimpin, apakah menuju kebijaksanaan atau tetap terjerumus dalam lingkaran korupsi.
Pementasan “Rojo Tikus” terbuka untuk masyarakat umum dan cuma-cuma. Dan di harapkan menjadi ruang apresiasi seni sekaligus refleksi sosial melalui medium seni budaya. (**)


