Wagub Jateng Hadiri Perang Obor Jepara Sarat Nilai Tradisi

Selain itu, Wagub mengingatkan sejarah Perang Obor mengandung pesan penting tentang amanah dan tanggung jawab.

“Dari sejarah Perang Obor ini ada pesan yang perlu di ingat masyarakat, bahwa amanah harus benar-benar di jalankan,” katanya.

Menurutnya, ritual tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk doa masyarakat kepada Tuhan agar di jauhkan dari musibah dan diberi keselamatan.

“Ini bentuk doa kepada Allah SWT agar masyarakat di angkat dari bala dan di beri keselamatan,” lanjutnya.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sejak sore hari. Banyak pengunjung datang dari luar daerah untuk menyaksikan langsung tradisi khas Jepara tersebut.

Kata Warga

Salah seorang pengunjung, Jatus, mengaku sengaja datang bersama keluarganya dari Batealit untuk menikmati kemeriahan Perang Obor.

“Sudah dua kali nonton. Tahun ini lebih seru,” ujarnya.

Ia mengatakan meski cuaca sempat di guyur hujan, masyarakat tetap bertahan memenuhi lokasi acara.

BACA JUGA :  Ahmad Luthfi Dorong Keterlibatan Semua Pihak Tangani Bencana

“Ramai sekali walaupun hujan,” katanya.

Jatus berharap tradisi tersebut ke depan semakin ramai dan terus di lestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Jepara.

“Harapannya semoga lebih ramai lagi,” ucapnya.

Di sisi lain, Perang Obor juga menjadi bagian hidup masyarakat Tegalsambi yang terlibat langsung sebagai pelaku tradisi. Salah satunya Petruk, warga yang sudah mengikuti Perang Obor sejak tahun 2000 atau sekitar 26 tahun terakhir.

“Saya ikut Perang Obor mulai tahun 2000,” katanya.

Tak hanya dirinya, tradisi tersebut kini juga diteruskan anaknya sebagai generasi penerus keluarga.

“Anak saya juga ikut. Ini tradisi turun-temurun,” ujarnya.

Menurut Kuning, masyarakat luar mungkin melihat Perang Obor sebagai tradisi ekstrem karena adanya kobaran api dan saling beradu obor. Namun bagi warga Tegalsambi, ritual itu merupakan warisan leluhur yang sarat nilai kebersamaan dan doa keselamatan.