Slawi  

Bisnis Lesu, Penjual Kubah Masjid di Tegal Pilih Banting Harga

SLAWI, smpantura – Persaingan dalam dunia usaha tak bisa di hindari. Bahkan, sampai saling banting harga. Ini agar produknya laku terjual. Hal itu juga terjadi pada bisnis pembuatan kubah di Tegal.

Kubah atau mahkota masjid kerap di jumpai di sepanjang Jalan Satu Tegal-Slawi. Terutama di Desa Pesayangan, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal. Para perajin kubah masjid menjajakan di pinggir-pinggir jalan.

Salah satu bengkel kubah masjid milik M Amrozi warga Desa Pesarean, RT 35 RW 08 mengatakan, bertahun-tahun dirinya menekuni usaha pembuatan kubah masjid. Amrozi mengakui usaha yang dulu ramai pesanan kini tak lagi semeriah dulu. “Bahan baku naik, tapi harga jual sulit ikut naik,” kata Amrozi.

Harga Material

Menurut dia, kenaikan harga material menjadi pukulan utama usaha kubah masjid. Besi yang sebelumnya Rp9.500 per kilogram kini melonjak menjadi Rp13.000. Lembaran stainless tipe 110 yang dulu Rp110.000 kini mencapai Rp125.000 per lembar. Galvalum pun merangkak naik dari Rp19.000 menjadi Rp24.000 per kilogram.

BACA JUGA :  Ki Haryo Go Internasional, Tour Wayang Santri di Malaysia, Bareng Ketua MPR RI Ahmad Muzani

“Lonjakan harga ini membuat margin keuntungan semakin menipis. Sementara itu, konsumen tetap berharap harga terjangkau,” harap Amrozi.

Di bengkel itu, Amrozi menunjuk miniatur kubah berdiameter 30 centimeter yang di banderol Rp600.000. Sementara untuk proyek besar, ia pernah menggarap kubah berdiameter hingga 15 meter, dengan lapisan stainless gold yang harganya bisa mencapai Rp500 jutaan.

“Kalau yang besar biasanya untuk masjid utama atau masjid raya. Tapi sekarang proyek besar jarang,” katanya.

Untuk menyiasati kenaikan bahan baku, Amrozi mempercepat proses pengerjaan. Waktu produksi yang lebih singkat diharapkan bisa menekan biaya operasional, terutama ongkos tenaga kerja. Ia dan para pekerjanya harus lebih cekatan, meminimalkan sisa bahan, dan mengatur ritme kerja agar tetap efisien.