Sejarah Tuk Mudal Cempaka Tegal, Sayembara Putri Cempaka Membuat Tempat Pemandian

TEGAL, smpantura – Destinasi wisata Tuk Mudal i Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, menyimpan cerita menarik. Putri Cempaka yang namanya dijadikan nama desa ini, menggelar sayembara untuk membuat tempat pemandian. Sayembara itu menarik para orang-orang sakti dan para waliyullah.

Cerita Putri Cempaka sudah melegenda di warga Desa Cempaka dan sekitarnya. Namun, sosok Putri Cempaka tak ada dalam cerita sejarah tentang asal usul kerajaan sang putri. Namun demikian, cerita rakyat ini bisa dimaknai sebagai simbol kemuliaan, harapan, atau hajat penting. Karena itu, sebagian masyarakat meyakini bahwa Putri Cempaka merupakan figur lokal yang dimuliakan dalam cerita rakyat, bukan tokoh historis yang dapat ditelusuri secara pasti.

Meski demikian, sosok Putri Cempaka tak lepas dari cerita sayembara munculnya Tuk Mudal yang menjadi sumber kehidupan masyarakat Desa Cempaka. Tak hanya dimanfaatkan airnya, tapi juga menjadi salah satu destinasi wisata andalan Desa Cempaka.

BACA JUGA :  Syekh Abdul Fatah Mokaha, Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa

Kisah munculnya Tuk Mudal bermula saat Putri Cempaka menggelar sayembara. Putri Cempaka menginginkan sebuah sumber mata air atau “tuk” yang bisa digunakan sebagai tempat pemandian. Permintaan itu menjadi perhatian para wali. Mereka kemudian saling bertanya, siapa yang sanggup mewujudkan keinginan sang putri.

Beberapa nama wali itu, diantaranya Mbah Mayakerti, Mbah Raksandana, Mbah Sutawedana, Mbah Camuluk, Mbah Agung, dan Mbah Ajegjaya. Namun, dalam kisah yang berkembang di masyarakat bahwa Mbah Camuluk yang berhasil membuat mata air sesuai permintaan Putri Cempaka. Mbah Camuluk membuat mata air dengan sebuah tongkat. Mbah Camuluk dengan penuh keyakinan, ia menancapkan tongkatnya ke sebuah batu besar. Tak lama setelah itu, dari titik tersebut tiba-tiba muncul air yang memancar deras ke samping, seolah-olah keluar dengan kekuatan yang tak biasa.