Batang  

Investor Korea Selatan Masuk ke KEK Batang, Serap 6.000 Tenaga Kerja 

BATANG, smpantura – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang terus menjadi magnet bagi investor berskala global. Terbaru, PT Simone Batang Indonesia, perusahaan manufaktur global berbasis produk berbahan kulit yang berorientasi ekspor dari Korea Selatan menyatakan komitmennya berinvestasi di Batang.

Komitmen investasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pemanfaatan Tanah Industri (PPTI). Penandatanganan di lakukan oleh Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang, Indri Septa Respati, bersama Direktur Utama PT Simone Batang Indonesia, Kim Jung Shik.

PT Simone Batang Indonesia akan menanamkan investasi besar. Yaitu senilai Rp 429 miliar untuk pembangunan fasilitas produksi di atas lahan seluas 8,28 hektare di kawasan KEK Industropolis Batang.

”Investasi tersebut di proyeksikan mampu menyerap sekitar 6.000 tenaga kerja. Dan memperkuat posisi Kabupaten Batang sebagai salah satu pusat industri padat karya berbasis ekspor di Indonesia,” ujar Direktur Pemasaran dan Pengembangan KEK Industropolis Batang Indri Septa Respati, Jumat (8/5).

BACA JUGA :  Kades Penundan Bantah Menolak Perpanjangan Kades

Masuknya PT Simone menunjukkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap Indonesia, khususnya KEK Industropolis Batang sebagai kawasan industri strategis. Investasi ini, lanjut Indri, juga menunjukkan Indonesia, melalui KEK Industropolis Batang, semakin di lihat sebagai bagian penting dalam rantai pasok global.

”Kami melihat tren yang semakin kuat di mana perusahaan internasional menjadikan kawasan ini sebagai basis produksi untuk pasar ekspor,” ucapnya.

Penguatan

Indri menambahkan, kehadiran investasi baru tersebut menjadi momentum penting dalam mendukung penguatan sektor manufaktur nasional. Terutama di tengah persaingan global untuk menarik relokasi industri dan ekspansi perusahaan internasional. PT Simone sendiri merupakan perusahaan manufaktur global yang berdiri sejak tahun 1987 dan telah memiliki fasilitas produksi di sejumlah negara seperti Vietnam dan Kamboja.