Persentase capaian pada beberapa aspek antara lain :
- Mengamati: 88,28%
- Mengkomunikasikan: 87,50%
- Merancang eksperimen: 86,72%
- Mengklasifikasi: 85,16%
- Memprediksi: 81,25%
- Menafsirkan: 79,69%
Selain itu, murid terlihat lebih antusias, kreatif, dan percaya diri dalam menyampaikan hasil kerja mereka.
Pembelajaran yang Bermakna
Bagi murid, belajar IPA melalui bawang goreng terasa lebih menyenangkan karena mereka mempelajari sesuatu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka juga memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi guru, pengalaman ini memberikan pelajaran penting bahwa potensi lokal dapat menjadi sumber belajar yang sangat kaya. Ketika pembelajaran dikaitkan dengan lingkungan sekitar, murid lebih mudah memahami konsep sekaligus mengembangkan karakter seperti kerja sama, kreativitas, dan penalaran kritis.
Layak Direplikasi
Praktik pembelajaran ini membuktikan bahwa inovasi tidak selalu memerlukan teknologi mahal. Dengan memanfaatkan potensi daerah dan kreativitas guru, pembelajaran dapat menjadi lebih bermakna.
Setiap daerah memiliki kekayaan lokal yang dapat dijadikan konteks pembelajaran. Jika di Brebes bawang goreng menjadi media belajar IPA, maka di daerah lain guru dapat memanfaatkan potensi lokal yang ada di sekitarnya.
Sains akan terasa lebih hidup ketika murid belajar dari realitas yang mereka kenal setiap hari. Dan ternyata, dari seiris bawang merah, lahir pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. (**)



