Cegah Stunting, Anggota DPR Nur Nadhlifah :  1.000 HPK Harus Jadi Perhatian

BUMIAYU, smpantura– Anggota Komisi IX DPR RI, Nur Nadhlifah, mengatakan, kekerdilan pada anak atau stunting akibat gizi buruk merupakan persoalan yang harus dituntaskan. Untuk itu, ia mengajak pemerintah dan semua pihak untuk menurunkan angka stunting.

Hal itu disampaikan dalam kegiatan Konsolidasi dengan Pemangku Kebijakan Tingkat Daerah (Kemitraan) bersama BKKBN di Hotel Anggraeni Bumiayu, Brebes, Minggu (4/12). Kegiatan yang dihadiri anggota Fatayat dan Muslimat NU ini bertujuan untuk mendorong percepatan penurunan stunting di Kabupaten  Brebes.

“Anak-anak yang mengalami stunting memiliki imun yang tidak baik, sehingga tentu saat dewasa akan lebih riskan sakit. Oleh karena itu, ini harus dituntaskan karena akan berdampak terhadap masa depan bangsa, karena anak-anak ini merupakan generasi penerus bangsa,”  katanya.

Menurut Nur Nadhlifah, stunting bukan hanya terjadi akibat kemiskinan. Politikus PKB tersebut mengaku sering mendatangi sejumlah desa dan menemukan bahwa kasus stunting juga dialami oleh keluarga sejahtera.“Artinya kemiskinan bukan satu-satunya penyebab stunting, tetapi juga pola hidup. Bagaimana pola hidup ibu hamil dalam mengonsumsi makanan yang bergizi bagi dirinya dan anak yang dikandungnya,” kata dia.

BACA JUGA :  DPRD Brebes Sahkan Perda APBD Perubahan 2022, Ini Sederet Catatannya

Oleh karena itu, menurut Nur Nadhlifah, 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) anak menjadi salah kunci penting dalam pencegahan stunting, disamping penanganan kemiskinan. Menurutnya, masa 1.000 HPK harus menjadi perhatian khusus karena sangat penting bagi tumbuh kembang anak dan dapat menentukan perkembangan kecerdasan dalam jangka panjang.

Masa 1.000 HPK sendiri terdiri atas 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada dua tahun pertama kehidupan anak.”Periode emas bagi anak ini tidak akan pernah terulang sehingga membutuhkan pendampingan dan perhatian khusus dari semua pihak,” ujarnya.

Pada bagian yang lain, pemerintah juga perlu melibatkan tokoh agama dalam rangka penguatan dan percepatan penurunan stunting. Kemudian, pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam penyiapan pangan sehat dan bergizi berbasis sumber daya lokal juga harus terus diedukasi.”Edukasi dan penyampaian informasi tentang bahaya stunting ini harus dilakukan dengan masif,” katanya.

Pihaknya juga mengaku akan melakukan edukasi dini tentang stunting kepada para pelajar di sekolah-sekolah maupun pesantren.”Generasi muda harus punya perspektif bagaimana menyiapkan masa depan mereka dengan baik,” kata Nur Nadhlifah.(T06-red)

Scroll to top
error: